Aku tak lebih dari sesosok jiwa murung yang menganggap riuhnya waktu sebagai epifani tak wajar. Bercermin kepada terik dan suasana tak mengenakan, lalu tertawa bersama arus memorabilia .
Hal yang menarik dari semua ini hanya terungkap dari sekelumit parodi-parodi hidup yang sama sekali tak pantas ditertawakan. Bergumam, mengeluh, dan terdiam di hadapan sebuah titik balik. Tak ada yang benar-benar memahami atau berharap untuk dapat memahaminya.
Ia adalah sebuah titik nadir dari sebuah nasib ironis bagi sebagian orang. Tak ada yang benar-benar tahu mengapa , atau berharap untuk dapat tahu mengapa.
Ini.......
adalah terik........

Tidak ada komentar:
Posting Komentar